Rabu, 16 April 2025

ALASAN MUHAMMADIYAH BERLEBARAN PADA HARI JUM'AT 21 APRIL 2023


Muhammadiyah telah resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 2023 jatuh pada Jumat, 21 April 2023. Hal ini sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/1.0E/2023 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah 1444 H.


Berdasarkan hisab Wujudul Hilal :

Ijtima : Kamis, 20 April 2023 M pukul 11:15:06

Terbenam matahari (yogya) pukul 17:36:51 WIB

Tinggi bulan (yogya) : +01° 47 menit 58 detik

1 Syawal 1444 H : Jum'at, 21 April 2023 M (LEBARAN)


Dengan mensyaratkan tiga parameter yaitu : 

(1) ijtimak sebelum gurub, 

(2) bulan terbenam (moonset) setelah matahari terbenam (sunset), 

(3) saat gurub hilal sudah wujud di atas ufuk.


Syarat parameter di atas sesuai dengan semangat Q.S. Yasin ayat 40


لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ


Artinya: "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."


Karena Muhammadiyah memiliki keyakinan dan berpedoman kepada Al-Quran dengan metode hisab yaitu : 


Q.S Yunus ayat 5 : 

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Artinya : Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.


Q.S Arrahman ayat 5

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ


Artinya : Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan


Dalam al-Quran terdapat dua ayat yang mengandung isyarat yang jelas kepada hisab, QS. Ar-Rahman ayat 5, ayat ini tidak sekadar memberi informasi, tetapi juga mendorong untuk melakukan perhitungan terhadap gerak matahari dan bulan. 


Sedangkan dalam QS. Yunus ayat 5 menyebutkan bahwa menghitung gerak matahari dan bulan sangat berguna untuk mengetahui bilangan tahun (kalender) dan perhitungan waktu (jam).


Dalam arti kedua benda langit tersebut dapat di hitung pergerakannya, kapan dia terbit, kapan dia terbenam, kapan dia berputar satu putaran, kapan terjadinya gerhana, dan lainnya.


Mengapa Muhammadiyah menggunakan hisab?

1. Semangat Al Quran adalah penggunaan hisab

2. Hadis-hadis yang memerintahkan rukyat adalah perintah ber'illat

3. Rukyat bukan ibadah, melainkan sarana

4. Rukyat tidak bisa digunakan untuk membuat kalender unifikatif

5. Rukyat tidak dapat menentukan tanggal jauh hari kedepan

6. Rukyat tidak bisa menyatukan awal bulan Islam secara global

7. Jangkauan rukyat terbatas

8. Rukyat menimbulkan masalah dalam pelaksaan puasa Arafah

9. Faktor Alam seperti Cuaca


Bukannya ada hadits nabi yang dahulu menentukan awal puasa & syawal dengan cara melihat bulan dengan mata kepala?


Rasulullah saw pernah bersabda mengenai perintah berpuasa jika melihat hilal:


إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ


Artinya: Apabila kalian melihatnya (hilal Ramadan), maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal bulan baru), maka berbukalah (lebaran). Tetapi jika mendung (tertutup awan) maka estimasikanlah (menjadi 30 hari). 

(HR. al-Bukhari dan Muslim)


Namun, hadits tersebut memiliki 'illat (alasan) mengapa nabi melihat bulan dengan mata kepala biasa karena pada zamannya belum memiliki ilmu hisab (perhitungan) astronomi, ilmu falaq atau di sebut umat yang "ummiy (tidak pandai baca tulis & hisab)".


Berdasarkan hadits :

يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ.


Artinya: Sesungguhnya umatku ummiy, tidak dapat menulis dan juga berhitung. Adapun bulan ini (Sya’ban/Ramadan) seperti ini dan seperti itu, yakni terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari. (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Namun di zaman modern serba ilmu pengetahuan ini hisab sangat di butuhkan untuk ibadah sehari-hari, seperti puasa, lebaran, hari arafah, shalat 5 waktu, shalat gerhana, dan lainnya.


Jadi, Muhammadiyah menentukan awal ramadan dan lebaran dengan semangat hisab, baralih dari metode rukyat ke metode hisab, yaitu metode hisab hakiki wujudul hilal.

Maka, jika tercipta kalender global atau semua sepakat menggunakan hisab tidak akan ada perbedaan di dunia ini dalam penentuan awal puasa dan lebaran.


Wallahua'lam bishshowwab


Nirmansyah Waterfall 

Ketua Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Puraseda

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Komentar yang cerdas dan santun.